Intense Debate Comments

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Kamis, 10 Maret 2011

Di Tepi Kesetiaan

Fathimah mengenang ketika suaminya, Umar ibn 'Abdul 'Aziz mulai memegang amanah kekhalifahan. "Mungkin ada orang lain yang lebih banyak shalat dan ibadahnya daripada Umar," kata Fathimah, "Tapi aku belum pernah menyaksikan orang yang lebih takut kepada Allah daripadanya."

Pengangkatannya menjadi Amirul Mu'minin memang menjadi sebuah jungkir balik hidup yang dahsyat bagi Umar. Seorang sahabatnya menyaksikan ketika di hari-hari ia memangku jabatannya, Umar memegang sehelai kain seharga 3 dirham dan berkomentar, "Ini terlalu halus untukku!" Sang sahabat tersenyum. Tapi tak terasa, air matanya meleleh deras.

"Mengapa kau tersenyum?" tanya Umar. Sahabatnya itu menerawang ke arah lain sambil menghela nafas. "Aku ingat saat kau masih seorang pemuda di Madinah," katanya. "Kau menganggap ringan terlambat shalat berjama'ah karena masih sibuk menyisir rambut. Dan kau..." Sahabatnya itu tersenyum lagi, sambil geleng-geleng kepala seolah geli. "Kau pernah mengatakan saat itu bahwa kain seharga 3.000 dirham terasa sangat kasar. Lihat dirimu sekarang! Kau katakan kain seharga 3 dirham sebagai terlalu halus."

Umar ikut tersenyum. Matanya kaca. Fathimah pun mengenang ketika sekali waktu Umar duduk di sampingnya kemudian berbisik lembut kepadanya, "Engkau pasti tahu dari mana ayahmu memberimu permata yang kau pakai ini. Oleh sebab itu, apakah engkau keberatan bila permata ini kita taruh dalam sebuah kotak lalu kita masukkan ke Baitul Maal?"

Fathimah terhenyak. Ia menatap lelaki yang amat dicintainya itu. Dirabanya permata yang menggantung di lehernya itu. Permata itulah satu-satunya perhiasannya yang masih tinggal. Ia sangat menyayanginya. Permata yang penuh kenangan. Permata itu hadiah dari ayahnya yang sekaligus paman Umar, Khalifah 'Abdul Malik ibn Marwan di hari pernikahan mereka.

"Terlebih dahulu," kata Umar, "Aku akan membelanjakan simpanan Baitul Mal yang lain, dan kalau sudah habis barulah akan kugunakan permata itu untuk kepentingan kaum muslimin."

Fathimah akhirnya tersenyum. Dibukanya pengait kalungnya. Diserahkannya permata itu ke genggaman suaminya. Dan Umar, dengan tubuhnya yang kini kurus, memeluknya tanpa kata. Mesra, dan lama. Fathimah tahu artinya. Seolah-olah ia mendengar suara lembut Umar, "Terima kasih atas kesetiaanmu padaku di jalan yang mendaki lagi sulit ini. Semoga Allah mempersatukan kita dalam kehidupan yang lebih indah di sisiNya."

Kelak, ketika Umar wafat dan adik Fathimah yang bernama Yazid ibn 'Abdul Malik menggantikannya sebagai Khalifah, ujian kesetiaan itu datang. Yazid yang tahu perhiasan kesayangan kakaknya membawa kembali permata itu. Dengan penuh sayang, diletakkannya permata itu di genggaman tangan kakaknya. Fathimah menggeleng sambil tersenyum. "Aku telah menjauhinya ketika Umar masih hidup. Bagaimana mungkin aku berdekat-dekat dengannya ketika Umar telah tiada?" begitu katanya.

Dari Buku Salim A. Fillah, Jalan Cinta Para Pejuang

Untukmu, Kelak, Anakku

Wahai anakku..
Tiadakah kau tahu  bahwa alam tersenyum manis padamu hari ini
Bulan bergembira di porosnya
Bintang-bintang ceria sesamanya
Dan planet-planet bertasbih mendoakanmu

Tiadakah kau tahu, anakku
Bahwa Allah begitu sayang padamu
Menobatkanmu jiwa yang fitrah
Engkau bersih di seluruh tubuhmu

Engkau suci diawal nafas dan detak jantungmu

Wahai anakku..
Wajahmu bak ibumu saat pertama kali ayah temui nafasnya
Tampan hatimu bak ayahmu yang akan menghadapi banyak ujian
Sejak engkau lahir hingga kelak engkau beranjak dewasa

Ayah ingin engkau tahu, anakku
Suci-mu saat ini adalah ujian
Tangismu adalah doa
Dan susu yang kau minum itu bisa jadi amal juga jadi dosa

Wahai anakku..
Ayah dan ibu berharap dengan doa
Semoga engkau cepat tumbuh dewasa karena Tuhan menanti jihadmu
Menebarkan cinta Ilahi
Menyerukan ayat-ayat Tuhan
Menemukan Syurga Firdaus di jalan-Nya
Dan Berjumpa dengan-Nya

Nak, Ayah dan ibu cinta padamu!

sumber: http://www.facebook.com/notes/ocha-hesti-full/untukmu-kelak-anakku/10150111285403802

JIka Sayang Tak Tertampakkan

Diam senjataku saat hati gemuruh merindunya.
Sesekali ingin aku berontak atas rasa yang harus tertahan.
Ada lelah yang tergurat dalam detak nadi perjuangan.
Merenung,
Menangis,
Bahkan ingin teriak sekerasnya.


Namun inilah fitrah yang harus dijejaki.
Rasa itu hadir menyusup halus ke kedalaman hati.
Tak ku pungkiri indah nian taman hati saat cinta mulai menari-nari.
Namun syaitan pengganggu kian kuat juga menari mengganggu isi hati.


Saat angin rindu tersampaikan pada hatiku
Ingin jua rinduku ku sampaikan pada deburan ombak yang berkejaran untuk tersampaikan padamu.
Rasamu juga tertanam dalam rasaku.
Namun rasa yang terhias dengan sayang tak pantas terucap kini.

Marah dan melemah itu mungkin yang terjadi padamu.
Namun sikapku belum kau pahami.

Duhai yang kusayang dalam hati.
Jika mulut tak terucapkan sayang untukmu.
Jika sikap tak sampaikan sayang untukmu.
Cukuplah kini hati yang menyayangimu dengan tidak mengatakn jua rindu dan sayang padamu.
Karna tak pantaslah itu terucap dan tertampakan sebelum khitbah kau kumandangkan.

Fahamilah..
Menyayangi itu bukan mengatakan sayang sebelum halal karna justru tu menjerumuskan.
Namun setelah halal barulah sayang itu wajib di persembahkan.

Wallahu'alam


***N.A'viewh'***

Canda Suami Istri ( Kita Akan Masuk Syurga )

Seorang lelaki yang pendek dan buruk rupanya suatu hari duduk-duduk bersama istrinya yang sangat cantik. Si lelaki tak berkedip memandang wajah istrinya yang cantik jelita.

Agak tersipu-sipu, sang istri pun sang istri berkata, “Kau ini kenapa sih, kok dari tadi memandangku saja?”

“Kulihat wajahmu,” jawab si suami, “semakin hari kok semakin cantik saja. Maka setiap kali aku melihatmu, semakin bertambah syukurku.”

“Ya, “kata si istri,” dan kita berdua nanti akan masuk surga.”

“Lho, darimana kautahu?”

“Bukankah hamba yang bersyukur dan hamba yang bersabar akan masuk surga. Kau bersyukur karena mendapat anugerah istri seperti aku. Sedangkan aku bersabar mendapat cobaan berupa suami seperti kau.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More