This is default featured post 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured post 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured post 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured post 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured post 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Minggu, 10 April 2011
Belajar Dari Kupu-kupu
Mapan dulu atau Nikah dulu ??
Terinspirasi dari sebuah buku “ 7 keajaiban Rezeki “ dari Ippho Santosa ( saya rekomendasikan buku ini bagi kamu, top abis deh ), saya menemukan sesuatu yang menarik didalamnya yang tak jauh dari masalah pernikahan.
Kemapanan sebelum menikah tentunya sangat diidam-idamkan oleh wanita maupun laki-laki, hmm..apalagi yang namanya laki-laki, banyak yang gak mau nikah karna belum mapan. Dan uniknya, ini karna doktrin dari para wanita, karna wanita ingin laki-laki yang mapan sebelum menikah agar pernikahannya lancar. Lah nikah karna cinta apa karna kemapanan sih aslinya ??
Susahnya lagi bukan hanya pasangan yang ingin menikah saja yang memikirkan hal ini, tapi orang tua mereka pun seolah tak mau ketinggalan dalam masalah ini. Yang paling menarik ketika orang tua justru berbicara mempesimiskan dan jauh dari keyakinan rezeki dalam kendali Allah, ‘ Belum mapan udah mau nikah, emangnya mau makan batu ?? ‘ wow, telak kena di hati.
Bisa jadi karna pikiran kamu terlalu sempit tentang rezeki atau ketidakpahaman bahwa Allah sudah mengatur rezeki pada diri masih-masing makhlukNya, sayangnya pemahaman sederhana pun tidak diandasi sikap yakin dan percaya bahwa Allah selalu akan memudahkan jalan bagi orang-orang yang ingin mengikuti sunnah Rasulullah Alaihi Wasallam.
Mapan..ukuran kemapanan dari kamu mungkin berbeda-beda. Ada yang sebelum punya rumah belum mapan, belum kerja berarti belum mapan. Kalo nunggu itu semua, terus kapan ada pikiran nikah, sedangkan hal dunia seperti itu tak bisa langsung didapatkan harus menanti proses.
Sudah banyak yang membuktikan bahwa mapan sebelum menikah tidaklah menentukan sebuah rezeki setelah menikah, justru banyak yang telah menikah membuktikan setelah menikah rezeki begitu mudah mengalir. Tidak ada yang tahu rezeki kamu itu seberapa , lalu kenapa kamu takut menikah jika kamu masih memikirkan harta dunia??
“ Kamu itu belum punya apa-apa, istrimu nanti mau kamu kasih makan apa ?? Batu ?? “ Perkataan ibu ku membuatku tertunduk, namun aku yang masih kuliah ini tetap menginginkan untuk menikah.
“ Masa iya Allah tega ngelihat hambaNya makan batu Bu “ aku masih membela diri.
“ Sudahlah Nak, kuliah dulu yang bener terus cari kerja baru mikirin nikah “
“ Umur berapa tuh Bu, kalo aku gak dapet kerja, gak nikah-nikah donk !!??
“ Pasti nikah Nak, tapi tunggulah sampai kamu benar-benar bisa mencukupi keluargamu nanti “
“ Saat ini juga aku ngerasa mampu kok Bu, aku bisa kuliah sambil jualan, calon istriku juga pasti mau ngertiin aku “
“ Ya sudahlah nak, itu terserah kamu “
Kisah di atas adalah sebuah pengalaman nyata dari seorang Sahabat, nyatanya dan Faktanya ketika mereka menikah, mereka tidak sampai makan batu tuh. Mereka malah sekarang bisa buka usaha sendiri dan tentunya karna mereka percaya dengan rezeki dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan bukan hanya satu pasangan yang meyakini hal ini, banyak pasangan nikah muda yang sudah merasakan keajaiban rezeki setelah menikah.
So..bagaimana denganmu ??
Wallahua’lam bish Shawwab
-Aulia Izzati-
sumber: bukanmuslimahbiasa.com
Apa Mau Mu Ukhti
Bismillahirrahmanirrahim..
#Kau bilang, aku tak sanggup jaga pandangan..
Kubilang, aku memang tak sanggup jaga pandangan bila kamu membuka auratmu lebar-lebar.
#Kau bilang, aku ganjen karna memandangmu..
Kubilang, kau katakan aku tak mampu jaga pandangan. Eehh..giliran aku jaga pandangan, kau buka auratmu lebih lebar. Maumu apa yaa ukhti?
#Kau bilang aku sok alim..
Kubilang, aku tak mau pacaran karna bisa merusak harga dirimu..
Kau bilang aku tak tahu diri..
Kubilang, kau katakan aku sok alim karna nggak mau pacaran. Eeehh..giliran aku mau pacaran denganmu kau bilang aku tak tahu diri. Maumu apaa yaa ukhti?
#Kau bilang aku tak perhatian padamu..
Kubilang, karna kau belum halal untukku biarlah perhatianku kutujukan untuk istriku kelak.
Kau bilang aku sok mau tahu urusanmu..
Kubilang, kau katakan aku tak perhatian padamu. Eeehh..giliran aku perhatian sama kamu, kamu bilang aku sok tahu urusanmu. Maumu apa yaa ukhti?
#Kau bilang aku sok takut tapi mau..
Kubilang, aku memang takut karna Allah tahu apa yang aku lakukan bila aku menyentuhmu..
Kau bilang aku tak tahu malu..
Kubilang, kau katakan aku sok takut sama Allah. Eeehh..giliran aku ingin menyentuhmu kau bilang aku tak tahu malu. Maumu apa yaa ukhti?
#Kau bilang, aku tak mau kenal denganmu..
Kubilang, kutakut bila kudekat denganmu aku tak mampu melindungi iffah dan izzahmu..
Kau bilang aku ikhwan genit..
Kubilang, kau katakan aku tak mau mengenalmu. Eeehh..giliran aku mendekatimu, kau bilang aku ikhwan genit. Maumu apa yaa ukhti?
Wahai Akhi, kau tanya apa mau kami?
Kami hanya ingin akhi tetap pada pendirian, jangan tergoda dengan kami. Karna kami tahu, kami adalah fitnah terbesar bagi kaum mu. Tidakkah kau mau agar kami tetap mampu menjaga Iffah da Izzah kami.
Tundukkanlah pandanganmu dari kami, bila kami mengumbar aurat kami padamu maka tahanlah pandanganmu dari panah-panah syetan. Tapi insyaallah, kami yakin, kami mampu untuk menjaga aurat kami dengan jilbab yang kami miliki, maka tajamkan pandanganmu pada hatimu jangan kau makin tergoda kepada kami karna jilbab kami.
Jangan kau goda kami dengan sanjungan-sanjunganmu, karna kami tak mampu meredam gejolak hati ini. Kau tahu, kami sangat lemah..lemah dengan pujianmu. Jangan kau seret kami dalam jurang kenistaan hanya karna godaan nafsu syetan.
Yaa Akhi.. maafkan kami yang tak mampu menjaga kemuliaan kami, tapi kami sedang berusaha untuk terus beranjak pada kemuliaan diri. Jagalah kami, tegurlah kami, bantulah kami dengan pribadi santunmu, bukan untuk menggoda kami sebelum kami halal bagimu.
Mari kita sama-sama menjaga diri, menghijab diri dari kemaksiatan. Mari kita melangkah untuk menggapai ridho Illahi.
Wallahua’lam bish shawwab.
sumber: bukanmuslimahbiasa.com
Jikalah
Jikalah DERITA akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dijalani dengan sepedih rasa,
Sedang KETEGARAN akan lebih indah dikenang nanti.
Jikalah LUKA dan KECEWA akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dibiarkan meracuni jiwa,
Sedang KETABAHAN dan KESABARAN adalah lebih utama.
Jikalah KEBENCIAN dan KEMARAHAN akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti diumbar sepuas jiwa,
Sedang MENAHAN DIRI adalah lebih berpahala.
Jikalah KESALAHAN akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti tenggelam di dalamnya,
Sedang TAUBAT itu lebih utama.
Jikalah HARTA akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti ingin dikukuhi sendiri,
Sedang KEDERMAWANAN justru akan melipat gandakannya.
Jikalah KEPANDAIAN akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti membusung dada dan membuat kerusakan di dunia,
Sedang dengannya manusia diminta MEMIMPIN dunia agar sejahtera.
Jikalah CINTA akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti ingin memiliki dan selalu bersama,
Sedang MEMBERI akan lebih banyak menuai arti.
Jikalah BAHAGIA akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dirasakan sendiri,
Sedang BERBAGI akan membuatnya lebih bermakna.
Jikalah HIDUP akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti diisi dengan kesia-siaan belaka,
Sedang begitu banyak KEBAIKAN bisa DICIPTA.
Suatu hari nanti, SAAT SEMUA TELAH MENJADI MASA LALU aku ingin ada diantara mereka, Yang beralaskan di atas permadani sambil bercengkerama dengan tetangganya, Saling bercerita tentang apa yang telah dilakukannya di masa lalu, Hingga mereka mendapat anugerah itu.
”Duhai kawan, dulu aku miskin dan menderita, namun aku tetap berusaha senantiasa bersyukur dan bersabar. Dan ternyata, derita itu hanya sekejap saja dan cuma seujung kuku, di banding segala nikmat yang ku terima di sini.”
”Wahai kawan, dulu aku membuat dosa sepenuh bumi, namun aku bertobat dan tak mengulangi lagi hingga maut menghampiri. Dan ternyata, ampunan-Nya seluas alam raya, hingga sekarang aku berbahagia.”
Suatu hari nanti, KETIKA SEMUA TELAH MENJADI MASA LALU, aku tak ingin ada di antara mereka, yang berpeluh darah dan berkeluh kesah, andai di masa lalu mereka adalah tanah saja.
”Duhai! Harta yang dahulu ku kumpulkan sepenuh raga, ilmu yang ku kejar setinggi langit, kini hanyalah masa lalu yang tak berarti. Mengapa dulu tak ku buat menjadi amal jariah yang dapat menyelamatkan ku kini?”
”Duhai! nestapa, kecewa, dan luka yang dulu ku jalani, ternyata hanya sekejap saja dibanding sengsara yang harus ku arungi kini. Mengapa aku dulu tak sanggup bersabar meski hanya sedikit jua?”
“Pada hari kiamat didatangkan orang yang paling nikmat hidupnya sewaktu di dunia dari penghuni neraka. Lalu ia dicelupkan ke dalam neraka sejenak. Kemudian ia ditanya: ”Hai anak Adam, pernahkah kamu melihat suatu kebaikan, pernahkah kamu merasakan suatu kenikmatan?” Maka ia menjawab: ”Tidak, demi Allah, ya Rabb.” Dan didatangkan orang yang paling menderita sewaktu hidup di dunia dari penghuni surga. Lalu ia dicelupkan ke dalam surga sejenak. Kemudian ditanya: ”Hai anak Adam, pernahkah kamu melihat suatu kesulitan, pernahkah kamu merasakan suatu kesengsaraan?” Maka ia menjawab: ”Tidak, demi Allah, ya Rabb. Aku tidak pernah merasakan kesulitan apapun dan aku tidak pernah melihat kesengsaraan apapun.” (HR Muslim 5018)
Oleh : Yuni Lisnawati ( e-Book Motivasi.exe -- Tafakur)








