This is default featured post 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured post 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured post 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured post 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured post 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Selasa, 04 Mei 2010
Kesadaran untuk Men-SYUKUR-i Musibah
Selasa, 27 April 2010
Alangkah Indahnya Membiasakan Diri Berbuat Nyata
Karena sangat sibuk, pemuka agama itu berjanji akan mendoakan wanita tersebut.
Beberapa saat kemudian wanita itu menulis puisi seperti ini : Saya kelaparan ...
dan Anda membentuk kelompok diskusi untuk membicarakan kelaparan saya
Saya tergusur ...
dan Anda ke tempat ibadah untuk berdoa bagi kebebasan saya
dan Anda sibuk mengharamkan pekerjaan yang Anda anggap tidak pantas, padahal halal dan saya membutuhkannya
Saya sakit ...
dan Anda berlutut bersyukur kepada Allah atas kesehatan Anda sendiri Saya telanjang, tidak punya pakaian ...
dan Anda mempertanyakan dalam hati kesopanan penampilan saya,
bahkan Anda menasehati saya tentang aurat.
Saya kesepian ...
dan Anda meninggalkan saya sendirian untuk berdoa Anda kelihatan begitu suci, begitu dekat kepada Allah
tetapi saya tetap amat lapar, kesepian, dan kedinginan ...
Setelah membaca puisi itu ...
Pemuka agama tadi terharu dan berkata : "kasihan wanita itu" ... lalu sibuk berdoa kembali, dan wanita itu tetap tidak memperoleh tempat berteduh.
Sahabat, dalam memberi bantuan, kita sering lebih banyak menyampaikan teori, nasihat, atau perkataan-perkataan manis.
Namun, sedikit sekali tindakan nyata yang kita lakukan.
Berusahalah untuk membantu orang, mengasihi orang, bukan hanya dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan nyata.
Orang-orang bijak mengatakan : Satu perbuatan nyata, sekecil apa pun, jauh lebih berarti dibandingkan seribu kata-kata indah.
Satu perbuatan nyata sama dengan seribu kata-kata indah.
Satu perbuatan nyata akan mengundang beberapa perbuatan nyata lainnya.
Marilah setiap hari kita (kami dan Anda) membiasakan dengan minimal SATU perbuatan nyata (tentu saja perbuatan baik untuk membantu orang lain).
Ini akan MENGUNDANG perbuatan-perbuatan baik lainnya.
Alangkah indahnya membiasakan diri berbuat nyata (berbuat baik).
Kamis, 22 April 2010
Lihat Jam Dinding itu!
Ada salah satu pengalaman menarik, ketika saya menuntut ilmu di pondok pesantren. Sebuah kata-kata yang sangat menggugah diri hingga saat ini. Saya yang dahulu orangnya sangat minder, pemalu, Alhamdulillah terpicu untuk menjadi orang yang berani tampil dan berbicara didepan banyak orang.
Mungkin diantara sahabat sekalian ada yang minder untuk tampil didepan banyak orang seperti saya dahulu. Hmm… semoga cerita ini bisa mengurangi minder anda, dan memicu keberanian anda…
Sahabat, saat itu saya masih duduk di kelas satu, Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Pondok Pesantren Al Mukmin Solo, sebuah pendidikan setingkat dengan SLTP/SMP saat itu. Saya yakin anda kenal dengan pondok tersebut. Pondok tersebut populer dengan nama pondok Ngruki.
Ya, anda benar, sering media mengaitkan dengan terrorist saat itu, karena ada segelintir alumni dari ratusan ribu alumninya menjadi pelaku terorris. Ah, sebuah kesimpulan yang terburu-buru menurutku, hingga mereka menuduh pondok kami mengajarkan terorisme. Ah, terserah mereka saja… saya cuma berusaha membuktikan dengan diri saya sebagai salah satu alumni. Dengan sikap saya, bahwa pernyataan itu tidak benar. Bahkan berbalik 180 derajat!... Because, My Name is Jihad, anda I am not a terrorist…!!! (he he… masih terniang dan teringat film “My Name is Khan” yang saya tonton kemarin. Yang belum nonton… saya sarankan nonton. Nggak bakalan nyesel Insya Allah)
Loh kok malah ngelantur…, mohon maaf sahabat. Kembali ke topik pembicaraan awal. Saat itu kami semua para santri berkumpul di masjid seusai sholat berjamaah. Kami semua menunggu ketua IST (kalau di sekolah negeri bernama OSIS) akan berceramah. Sebuah ceramah yang sangat berkesan bagiku.
“Kalian sebagai santri harus berani tampil didepan umum!” pekiknya.
“Percaya tidak, bahwa orang yang berani berbicara didepan banyak orang, dia mampu menguasai lebih dari 80% orang yang dihadapannya. Percaya tidak?” tanyanya.
Saat itu kami terdiam sambil mendengarkan perkataannya yang berapi-api penuh semangat.
“Loh, kok malah diam?... Berarti kalian tidak percaya?” tanyanya lagi.
“Oke, kalo begitu… Coba sekarang kalian lihat jam dinding itu!” katanya sambil menunjuk sebuah jam dinding yang menempel tembok di belakang kami.
Penasaran kamipun melihat jam dinding itu. Apa maksudnya disuruh untuk melihat jam dinding biasa itu? Tanyaku dalam hati.
“Nah…! Terbukti kan? Lebih dari 80 % kalian semua melihat jam dinding itu. Hanya yang tidur yang tidak melihat jam itu. Betul?... Sekarang percaya kan?” kata dia puas, dengan senyum lebar, merasa berhasil mempengaruhi kami.
Ow ternyata maksudnya itu. Bibirku tersenyum takjub membenarkan kata-katanya.
Sejak saat itu saya memulai termotivasi untuk berani tampil dan berbicara didepan umum. Tentunya bukan sekedar berani, tapi juga harus didukung dengan pembelajaran tekhnik berbicara dan berpidato. Alhamdulillah, program Muhadoroh, sangat mendukung pembelajaranku. Sebuah program berlatih berpidato. Sepekan dua kali. Setiap hari senin dan kamis sore. Kami semua digilir untuk berpidato menggunakan bahasa Indonesia, Bahasa Arab, dan Bahasa Inggris.
Meja-meja kelas dijadikan satu, menjadi sebuah panggung. Para santri yang tidak mendapat giliran berpidato menjadi penonton. Tak jarang mereka usil mengganggu rasa percaya diri kami. Tapi tak jarang pula mereka menyemangati kami ketika kami, kikuk minder berdiri diatas panggung. Ah, sebuah kenangan indah yang tak terlupakan disana.
~~~
Sahabat…, semoga cerita sederhana ini bisa menjadi inspirasi bagi anda untuk berani tampil di depan umum. Saatnya orang-orang yang baik seperti sahabat-sahabat sekalian harus bergerak memulai perubahan kebaikan itu. Berusahalah menjadikan 80 % orang dihadapan anda jadi lebih baik dari sebelumnya.
Terimakasih telah membaca…, Salam Motivasi…!
Filosofi Burung Angsa
Saat setiap burung mengepakkan sayapnya, hal itu memberikan "daya dukung" bagi burung yang terbang tepat di belakangnya. Ini terjadi karena burung yang terbang di belakang tidak perlu bersusah payah untuk menembus “dinding udara” di depannya. Dengan terbang dalam formasi "V", seluruh kawanan dapat menempuh jarak terbang 71% lebih jauh daripada kalau setiap burung terbang sendirian.
Kalau seekor burung angsa terbang keluar dari formasi rombongan, ia akan merasa berat dan sulit untuk terbang sendirian. Dengan cepat ia akan kembali ke dalam formasi untuk mengambil keuntungan dari daya dukung yang diberikan burung di depannya.
Pelajaran:
Kalau kita memiliki cukup logika umum seperti seekor burung angsa, kita akan tinggal dalam formasi dengan mereka yang berjalan di depan. Kita akan mau menerima bantuan dan memberikan bantuan kepada yang lainnya. Lebih sulit untuk melakukan sesuatu seorang diri daripada melakukannya bersama-sama. Fakta:
Ketika burung angsa pemimpin yang terbang di depan menjadi lelah, ia terbang memutar ke belakang formasi, dan burung angsa lain akan terbang menggantikan posisinya.
Adalah masuk akal untuk melakukan tugas-tugas yang sulit dan penuh tuntutan secara bergantian dan memimpin secara bersama. Seperti halnya burung angsa, manusia saling bergantung satu dengan lainnya dalam hal kemampuan, kapasitas dan memiliki keunikan dalam karunia, talenta atau sumber daya lainnya. Fakta:
Burung-burung angsa yang terbang dalam formasi ini mengeluarkan suara riuh rendah dari belakang untuk memberikan semangat kepada burung angsa yang terbang di depan sehingga kecepatan terbang dapat dijaga.
Kita harus memastikan bahwa suara kita akan memberikan kekuatan. Dalam kelompok yang saling menguatkan, hasil yang dicapai menjadi lebih besar. Kekuatan yang mendukung (berdiri dalam satu hati atau nilai-nilai utama dan saling menguatkan) adalah kualitas suara yang kita cari. Kita harus memastikan bahwa suara kita akan menguatkan dan bukan melemahkan.
Ketika seekor burung angsa menjadi sakit, terluka, atau ditembak jatuh, dua burung angsa yang lain akan ikut keluar dari formasi bersama burung angsa tersebut dan mengikutinya terbang turun untuk membantu dan melindungi. Mereka akan tinggal dengan burung angsa yang jatuh itu sampai ia mati atau dapat terbang lagi. Setelah itu mereka akan terbang dengan kekuatan mereka sendiri atau dengan membentuk formasi lain untuk mengejar rombongan mereka.
Kalau kita punya perasaan, setidaknya seperti seekor burung angsa, kita akan tinggal bersama sahabat dan sesama kita dalam saat-saat sulit mereka, sama seperti ketika segalanya baik.
Jadi apa keuntungan yang kita dapat dari perdebatan takberujung karena perbedaan? Bukankah lebih baik kita bahu membahu saling mengisi kekurangan kita? Mencari solusi terbaik bersama-sama disaat kita berbeda pandangan? Ingatlah kawan, bangsa ini bukan hanya milik kita tapi milik penerus & keturunan kita juga. Akankah kita mewariskan bangsa ini pada penerus kita bangsa yang carut marut tanpa arti? Jawabannya ada pada sahabat sekalian.
Semoga filosofi ini bermanfaat buat kita semua.
Terimakasih telah membaca,... Salam Motivasi.








